Delapan Tahun Sekali, PB XIII Gelar Adhang Sakral di Pawon Gondorasan

- Jurnalis

Senin, 8 September 2025 - 08:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SURAKARTA, KLIKINDONESIA – Menjadi saksi digelarnya sebuah prosesi sakral yang jarang sekali bisa disaksikan publik. Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat melaksanakan Hajad Dalem Adhang Tahun Dal 1959 Jawa di Kagungan Dalem Pawon Gondorasan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Prosesi ini semakin istimewa karena SISKS Pakoe Boewono XIII hadir secara langsung memimpin jalannya ritual bersama GKR Pakoe Boewono, Pada Minggu malam (07/09/2025).

Tradisi Adhang Tahun Dal bukanlah peristiwa biasa. Ia hanya dilakukan setiap delapan tahun sekali, tepatnya pada Tahun Dal dalam siklus penanggalan Jawa. Karena itu, keberlangsungannya selalu dinanti dan dianggap sakral. Di balik prosesi ini tersimpan nilai historis, spiritual, sekaligus budaya yang berakar dari leluhur Karaton.

Keunikan Adhang Tahun Dal terletak pada penggunaan pusaka dandhang yang dipercaya peninggalan Ki Ageng Tarub, leluhur Karaton. Tiga pusaka itu adalah Kangjeng Kyai Dhudha, Kangjeng Kyai Godrag, dan Kangjeng Rejeki. Ketiganya tidak hanya dipandang sebagai alat memasak, melainkan simbol berkah, rejeki, dan kesinambungan hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi. Hingga kini, pusaka tersebut tetap dirawat sebagai Kagungan Dalem Karaton Kasunanan Surakarta.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Malam itu, suasana Pawon Gondorasan dipenuhi aroma kayu bakar saat SISKS Pakoe Boewono XIII menyalakan api tungku sebagai tanda dimulainya prosesi. Api yang menyala di tungku pusaka seolah membakar semangat kebersamaan seluruh Sentono dalem dan abdi dalem yang hadir. Putri dalem GKR Timoer Rumbai kemudian menanak nasi dalam dandhang pusaka, sementara para abdi dalem mengumandangkan shalawat Nabi dengan khidmat menambah suasana semakin teduh dan penuh rasa syukur.

Nantinya setelah nasi matang, prosesi dilanjutkan dengan pembagian kepada para abdi dalem. Bagi mereka, menerima nasi hasil Adhang Tahun Dal adalah sebuah berkah. Bukan sekadar santapan, melainkan berkah yang diyakini membawa keselamatan dan rejeki.

KPA Dani Nur Adhiningrat, selaku Pengageng Sasana Wilapa Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, menegaskan bahwa prosesi ini semakin sakral karena dipimpin langsung oleh SISKS Pakoe Boewono XIII.

“Adhang Tahun Dal menjadi sangat istimewa ketika SISKS Pakoe Boewono XIII hadir langsung bersama GKR Pakoe Boewono. Kehadiran beliau bukan hanya simbol kepemimpinan, tetapi juga teladan spiritual bagi seluruh abdi dalem dan masyarakat. Prosesi ini menunjukkan bahwa Karaton masih teguh menjaga amanah leluhur dalam bentuk nyata, bukan sekadar cerita,” Ujarnya.
Tradisi ini, lanjut KPA Dani, adalah ruang pembelajaran budaya dan spiritual yang sangat berharga. Di tengah arus globalisasi, Adhang Tahun Dal mengingatkan generasi muda bahwa kebudayaan Jawa tidak hanya berupa pertunjukan, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur tentang syukur, kebersamaan, dan pengabdian.

“Kami ingin generasi muda memahami bahwa setiap detail dalam prosesi ini memiliki makna. Api yang dinyalakan oleh Sampeyan Dalem melambangkan semangat hidup, dandhang pusaka mencerminkan keberlangsungan rejeki, dan nasi yang dibagikan adalah wujud syukur serta kepedulian. Karaton ingin memastikan bahwa tradisi ini terus diwariskan agar jati diri bangsa tidak hilang ditelan zaman,” Tambahnya.

Dengan berlangsungnya Hajad Dalem Adhang Tahun Dal 1959 ini, Karaton Surakarta kembali menegaskan dirinya sebagai pusat budaya Jawa. Tradisi yang hanya hadir sekali dalam delapan tahun ini menjadi bukti nyata bahwa warisan leluhur bukan sekadar benda pusaka, melainkan juga nilai hidup yang mengikat manusia dengan Sang Pencipta dan sesama.

Bagi masyarakat luas, prosesi ini sekaligus menjadi ajakan untuk terus mencintai kebudayaan. Sebab di balik setiap tradisi, tersimpan ajaran tentang bagaimana manusia harus hidup dengan rasa syukur, peduli, dan senantiasa menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.*[]

Penulis : Bagas

Editor : Wina

Sumber Berita: KLIKINDONESIA

Berita Terkait

Meriahkan HJB ke-348, Pemkab Bojonegoro Gelar Pagelaran Reog dan Wayang Kulit di Pendopo Gandul Roso Kedungadem
Tari Kolosal Bojonegoro Gemilang Bikin Merinding, 348 Penari Suguhkan Harmoni Budaya di HJB ke-348
Pengabdian Masyarakat UNTAG Surabaya: Puguh Tawarkan Mediasi Kolaboratif untuk Sengketa Konsumen
Kolaborasi Unwahas–UNISNU Jepara Hadirkan Program “WARIS SEHAT” Untuk Santri
Keindahan Wisata Alam Bojonegoro – Jawa Timur
HMTN-MP Gandeng Kophat dan TNI Perkuat Program Ketahanan Pangan Lewat Penanaman Jagung di Sukabumi
Grand Design Wajib Belajar 13 Tahun: 1 Tahun Prasekolah Jadi Fondasi Generasi Emas
Dalam Semarak HUT RI ke-80, Media News Satumenit dan E-Sorot, Berbagi dengan Anak Yatim dan Kaum Duafa

Berita Terkait

Sabtu, 15 November 2025 - 17:05 WIB

Meriahkan HJB ke-348, Pemkab Bojonegoro Gelar Pagelaran Reog dan Wayang Kulit di Pendopo Gandul Roso Kedungadem

Selasa, 16 September 2025 - 03:21 WIB

Pengabdian Masyarakat UNTAG Surabaya: Puguh Tawarkan Mediasi Kolaboratif untuk Sengketa Konsumen

Sabtu, 13 September 2025 - 13:38 WIB

Kolaborasi Unwahas–UNISNU Jepara Hadirkan Program “WARIS SEHAT” Untuk Santri

Jumat, 12 September 2025 - 05:03 WIB

Keindahan Wisata Alam Bojonegoro – Jawa Timur

Senin, 8 September 2025 - 08:57 WIB

Delapan Tahun Sekali, PB XIII Gelar Adhang Sakral di Pawon Gondorasan

Berita Terbaru